

Tjahjo Boedi Santoso, CLC’ers
Perjalanan hidup Saint Ignatius of Loyola selalu menghadirkan inspirasi mendalam bagi banyak orang yang menapaki spiritualitas Ignatian. Salah satu fase yang paling menyentuh adalah masa ketika Ignatius berada di Alcalá de Henares pada tahun 1526. Masa ini dapat disebut sebagai “momentum emas” karena pada saat itulah Ignatius hidup sebagai seorang awam tulen — belum menjadi imam, belum memiliki jabatan gerejawi, tetapi sudah dipenuhi hasrat untuk mencari dan menemukan Tuhan dalam segala hal.
Di Alcalá, Ignatius hidup sederhana sebagai peziarah dan pelajar. Ia belajar sambil mendampingi orang-orang melalui percakapan rohani dan pengalaman doa yang kemudian berkembang menjadi Latihan Rohani. Yang menarik, semua itu dilakukan bukan karena kekuasaan atau status, melainkan karena pengalaman pribadinya akan kasih Tuhan yang begitu nyata dalam hidupnya. Ignatius hadir sebagai seorang awam yang berjalan bersama sesama manusia: mendengarkan, menemani, dan membantu orang lain menemukan kehendak Allah dalam hidup sehari-hari.
Bagi saya sebagai anggota Christian Life Community di Indonesia, pengalaman Ignatius di Alcalá terasa sangat dekat dan relevan. Saya melihat bahwa panggilan awam bukanlah panggilan kelas dua dalam Gereja. Justru di tengah kehidupan sehari-hari — dalam keluarga, pekerjaan, relasi sosial, dan tanggung jawab masyarakat — Tuhan bekerja dan memanggil saya untuk menjadi saksi-Nya. Tuhan sungguh bekerja dan memanggil saya untuk mendengarkan, menemani, membantu orang lain dan bersama-sama menempuh peziarahan hidup dengan bertekun pada Christian Life Community’s way of life yang menyandarkan diri pada azas dan dasar kehidupan (LR 23).
Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya.
Spiritualitas Ignatian yang saya hidupi dalam Christian Life Community mengajarkan bahwa hidup rohani tidak terpisah dari realitas dunia. Seperti Ignatius di Alcalá, saya belajar untuk peka terhadap gerak batin, jatuh dan bungun untuk melakukan refleksi harian, dan menemukan Tuhan dalam setiap pengalaman hidup baik berupa keberhasilan, kegagalan, sukacita, bahkan pergulatan pribadi. Dalam komunitas, saya belajar bahwa perjalanan iman bukan perjalanan sendirian, melainkan perjalanan bersama yang saling meneguhkan.
Pengalaman Ignatius yang sempat dicurigai dan diperiksa juga menjadi refleksi penting bagi saya. Menghidupi iman secara otentik terkadang tidak selalu mudah. Ada tantangan untuk tetap setia pada nilai-nilai Injil di tengah dunia yang sering bergerak ke arah berbeda dan mengatasi kelemahan diri. Namun, Ignatius menunjukkan bahwa kesetiaan, kerendahan hati, dan kemampuan untuk terus membedakan roh merupakan fondasi penting dalam menjalani panggilan hidup.
Masa Alcalá menyadarkan saya bahwa kekuatan seorang awam tidak terletak pada jabatan, tetapi pada kedalaman relasi dengan Tuhan dan keberanian untuk hadir bagi sesama. Sebelum dikenal dunia sebagai pendiri Serikat Yesus, Ignatius terlebih dahulu adalah seorang awam yang mau dibentuk oleh pengalaman hidup dan tuntunan Roh Kudus. Hal itu memberi harapan bahwa setiap anggota Christian Life Community pun dipanggil untuk menjadi rasul di tengah dunia, dengan cara yang sederhana namun nyata.
Karena itu, refleksi atas perjalanan Ignatius di Alcalá bukan hanya kisah sejarah Gereja, melainkan juga cermin perjalanan hidup saya sendiri dalam menghidupi Christian Life Community’s way of life.
CLC’s way of life bukan sekadar panduan, tapi cara hidup yang melatih saya untuk menjadikan seluruh hidup sebagai tempat perjumpaan dengan Tuhan. Azas dan Dasar, terutama LR 23, mengingatkan bahwa panggilan saya bukan untuk lari dari dunia, melainkan masuk ke dalamnya dengan hati yang bebas dan terdiferensiasi.
Di sinilah praktik examen harian dan diskresi roh menjadi napas hidup saya. Lewat examen, saya belajar berhenti sejenak di malam hari: melihat di mana saya merasa hidup, di mana saya merasa mati, dan di mana Tuhan hadir tanpa saya sadari. Lewat diskresi, saya melatih diri untuk tidak cepat-cepat mengambil keputusan, tapi bertanya: gerakan mana yang membawa saya lebih dalam pada kasih, kebebasan, dan pelayanan?
Komunitas menjadi tempat saya menguji dan meneguhkan gerakan-gerakan itu. Di CLC, saya tidak berjuang sendiri melawan godaan untuk sibuk, sinis, atau pasif. Ada sahabat-sahabat yang mendengarkan tanpa menghakimi, yang berani bertanya “Apa yang Tuhan gerakkan dalam dirimu minggu ini?”. Relasi inilah yang membuat panggilan awam terasa konkret: menjadi saksi di kantor, sabar di rumah, jujur dalam pertemanan, dan setia pada hal-hal kecil yang sering dianggap remeh.
Dengan cara ini, Alcalá 1526 tidak lagi tinggal di buku sejarah. Ia hidup lagi ketika saya memilih menemani seorang teman yang sedang bingung, ketika saya memilih jujur di tempat kerja walau merugikan, ketika saya memilih berdoa 10 menit di tengah hiruk pikuk. Di situlah Tuhan bekerja, dan di situlah saya belajar menjadi rasul awam seperti Santo Ignatius dahulu.
Dalam spiritualitas Ignatian, saya belajar bahwa Tuhan hadir dalam dinamika hidup sehari-hari dan terus mengundang saya untuk menjadi pribadi yang semakin sadar, bebas, dan siap melayani. Seperti Ignatius di Alcalá, saya pun ingin terus berjalan sebagai seorang awam yang mencari Tuhan dalam segala hal dan menghadirkan kasih-Nya di tengah dunia. Seperti Ignatius di Alcalá, saya juga ingin didatangi orang-orang dan teman-teman yang ingin didengarkan.
